29
Nov
09

CONSTRUCTION QUALITY SURVEILLANCE (PENGAWASAN KUALITAS KONSTRUKSI)

I. PENGANTAR
Peran utama departemen Quality pada suatu organisasi Project Management Team (PMT) adalah menjaga, menegaskan dan mengarahkan unjuk kerja/performance (sub) kontraktor dan vendor agar mengikuti spesifikasi pekerjaan, Code dan Standards yang sesuai, regulasi pemerintah setempat yang berkaitan, persyaratan sesuai dokumen kontrak, normal practices dan dilakukan sesuai dengan dokumen Rencana (Jaminan) Mutu (Contractor’s Quality Plan) yang telah disetujui PMT.
Dalam pelaksanaan pengawasan mutu pekerjaan dilapangan diperlukan panduan kerja para personal departemen Quality. Normalnya adalah, Job Specification/Rencana Kerja dan Syarat (RKS), Drawing/Gambar dengan status IFC/AFC dan harus revisi terakhir serta Code/Standard yang menjadi rujukan untuk pekerjaan yang dimaksud.
Dalam perkembangan aplikasi teknik-teknik pemeriksaan pekerjaan diproyek, saat ini dipergunakan pula apa yang disebut Construction Surveillance Program (CSP). Aplikasi CSP ini membuat pemeriksaan pekerjaan menjadi lebih detail, meningkatkan kemampuan inspektur QC dan supervisor konstruksi, mengantisipasi/meminimalisasi kesalahan penerapan unsur-unsur pekerjaan dan menghindari rework (pekerjaan ulang). Mudahnya, jika kesalahan pelaksanaan pekerjaan dapat diantisipasi, dikoreksi dari awal sebelum pekerjaan tersebut dieksekusi maka rework yang berarti membuang waktu dan biaya dapat juga dihindari. Berujung pada mutu pekerjaan (quality) terjamin, efisiensi biaya dan (diharapkan) akselerasi waktu proyek.
II. CONSTRUCTION SURVEILLANCE PROGRAM
CSP merupakan perwujudan pelaksanaan assessment dan verification ditapak kerja. Terdiri atas beberapa elemen sebagai berikut:
a. Critically Assessment
Adalah tinjauan ulang terhadap produk berdasarkan pengaruh terhadap ketidak sesuaian (Non Conformance) di proyek. Hasil assessment (taksiran) ini berada dalam peringkat kritis yang dapat dipergunakan PMT memutuskan jenis kekeliruan konstruksi.

b. Construction Process Assessment
Adalah evaluasi secara periodik terhadap proses konstruksi yang dilakukan kontraktor apakah taat terhadap norma kerja yang baik (normal good practices), prosedur dan rencana. Rencana assessment dapat dikembangkan sesuai volume pekerjaan dan produk yang akan dihasilkan nantinya. Misalnya seberapa banyak check list item yang akan digunakan dan seberapa sering assessment yang patut dilakukan. Sebelumnya, metode assessment yang akan dipergunakan sebaiknya didiskusikan terlebih dahulu dan disetujui bersama. Langkah ini penting dilakukan demi membuat semua pihak mengenal dan mengerti fungsi dan tujuan assessment. Dalam merencanakan pembuatan Construction Assessment Plan, perlu dicakupkan hal-hal dibawah ini:
• Tipikal assessment yang akan dilakukan. Misalnya untuk pekerjaan piping apakah assessment welding dicukupkan pada saat pengelasan joint pipa-pipa utama yang bertekanan tinggi, apakah perlu juga assessment di golden joint. Untuk static/rotating equipment, misalnya apakah perlu assessment pada saat vessel/compressor masih berada di preservation area. Bagi sipil, apakah assessment cukup pada saat pre pour ataukah dapat dimulai dari saat land clearing.
• Check list yang akan digunakan. Jenis check list dan isiannya mengacu pada spesifikasi teknis dan good practices. Pada terapan dilapangan, check list dipakai pada setiap jenis proses konstruksi dan merupakan panduan utama bagi Inspektur QC. Inspektur QC sebagai personel lapangan yang melakukan tindakan ini selayaknya mendapatkan pendalaman dan orientasi serta berpartisipasi dalam pembuatan check list pekerjaan sesuai bidang inspeksi masing-masing. Namun patut diketahui bahwa assessment yang diwujudkan dalam check list item pekerjaan bukanlah tindakan audit ataupun inspeksi serta bukan difokuskan untuk mendapatkan kesalahan proses yang berujung pada non compliance. Tetapi kalau diketemukan tindakan proses konstruksi yang menyalahi aturan pada saat check list dilakukan, kesalahan tersebut dapat dipertimbangkan sebagai “issue/case” dan mungkin saja berimplikasi pada penerbitan non conformity jika tindakan koreksi tidak segera dilakukan.
• Frekwensi assessment. Assesment sebaiknya dilakukan secara berkala. Berkala maksudnya tidak tergantung apakah pernah dilakukan assessment pada tahapan yang sama terhadap suatu jenis pekerjaan tersebut sebelumnya. Misalnya begini, katakanlah inspektur QC sipil pada minggu pertama hari kedua bulan A melakukan assessment terhadap proses konstruksi pedestal dudukan vessel dan mendapatkan hasil diterima/accepted. Namun ternyata pada minggu kedua hari kedua bulan A tersebut proses pekerjaan belum selesai. Apakah perlu lagi dilakukan assessment terhadap proses pekerjaan yang sama itu? ‘Kan, minggu lalu hasil assessment-nya bagus? Jawabnya adalah, tetap perlu. Mengapa? Dasarnya adalah kemungkinan terjadi perubahan-perubahan dalam seminggu berjalan yang lalu misalnya terhadap kedudukan tulangan, formwork/perancah, anchor templates, dapat saja muncul dan hasil assessment bisa saja “rejected/ditolak”. Assessment berkala akan lebih mendapatkan bidikan yang focus terhadap Quality tahapan pekerjaan.
• Rencana Assessment Mingguan. Pembuatan rencana mingguan berfungsi untuk mempertajam dan menjaga level quality assessment proses pekerjaan yang dimaksud. Tentu harus diselaraskan dengan rencana kemajuan pekerjaan lapangan dari kontraktor.
c. Construction Verifications
Adalah aktivitas utama atau review dokumen dimana Inspektur QC dari PMT melakukan inspeksi pada level “witnessed” untuk memverifikasi/melakukan pembuktian apakah kontraktor melakukan konstruksi sesuai dengan spesifikasi. Verifikasi ini normalnya di munculkan pada level/poin “witness” dan “hold” dalam ITP yang dipakai untuk pekerjaan yang dimaksud. Jumlah dan cakupan pekerjaan oleh Inspektur QC dari PMT harus tertulis jelas dalam Spesifikasi Kontrak dan sesuai terhadap tahapan yang dianggap kritis dalam proses fabrikasi, system yang dijalankan, dan perakitan dilapangan. Peringkat tahapan kritis dari komponen produk/proses konstruksi ataupun system ditentukan lebih lanjut dalam tingkat verifikasi (inspeksi) yang termaktub dalam ITP.
Aplikasi CSP ini bukan dimaksudkan untuk mengambil porsi pengawasan pekerjaan yang dilakukan oleh Supervisor konstruksi. Inspektur QC yang merupakan ujung tombak dalam penerapan CSR dilapangan. Yang kemudian hasilnya dilaporkan dan dipertanggung jawabkan ke atasannya. Rangkaian CSR sendiri patut dilakukan sejak dari material berikut perangkat pembuatnya berada di preservation area (gudang/tempat penyimpanan barang), saat assembly/installation, hingga post work. Khususnya dalam aktivitas Monitoring terhadap kinerja Quality, Inspektur QC diharapkan dapat melakukannya pada sekitar 20% dari waktu inspeksi dilapangan. Tidaklah harus secara spesifik untuk lokasi kerja tertentu namun lebih ditekankan pada pekerjaan apapun yang sedang berlangsung dilapangan. Jika dalam Monitoring ini ditemukan non conforming condition baik itu masih berupa proses konstruksi maupun telah menjadi produk konstruksi. Maka check list assessment baiknya segera dibuat, laporan harus disampaikan dan tindakan yang sesuai harus segera diambil.
Illustrasi dibawah ini memberikan gambaran tentang aktivitas surveillance
Jumlah = 100%
Keterangan:
1. Administrative Duties mencakup pekerjaan reporting, meeting, training dll.
Sebelum melakukan assessment, ada baiknya mempertimbangkan hal dibawah ini:
1. Menentukan jadwal assessment untuk minggu mendatang dan memastikan bahwa kontraktor dapat menampilkan proses konstruksi yang menjadi subyek assessment selama kerangka waktu tersebut.
2. Tinjau ulang check list yang akan dipergunakan dan jika perlu, membuat persiapan dan akses kelokasi proses.
3. Melaksanakan assessment menurut check list yang sesuai.
4. Mencatat hasil dari check list dan memasukkannya ke database construction surveillance.
5. Penemuan defisiensi harus dicatat juga dalam check list dan digandakan kepada kontraktor yang bersangkutan untuk segera ditindak lanjuti.
6. Defisiensi tersebut harus dipantau dan ditutup jika verifikasi pada assessment berikutnya dinyatakan diterima/sesuai spesifikasi/gambar/standar.
Perlu diingat pula, pencatatan dan pelaporan hasil assessment akan sangat membantu semua pihak terkait (PMT, Kontraktor/Sub dan Vendor) dalam melihat kinerja Quality dilapangan. Apalagi jika terjadi kekeliruan yang berujung pada non conformity dan penalti, assessment dapat membantu dalam mencari root cause dari kekeliruan yang dimaksud. Untuk itu pembuatan assessment haruslah dilakukan oleh inspektur QC yang ahli dan berkompeten dalam bidangnya.
Illustrasi untuk penerbitan CAR dan NCR
Fokus: Proses Produk Jadi

Metoda:

Contoh Check List:
Company :
Proyek :

Construction Assessment Checklist
Checklist No: Activity : HYDROTEST
Revision: Discipline: Piping
Site/Location : Report No. :
Contractor : Date :
Subcontractor : Component :

Item Action Result
Accepted
Yes No
1 Record the isometric numbers and spool
Drawing numbers to be tested
2 Check that acceptable specification for the test parameters on site (test definition forms & test recording forms)
3 Check that the equipment involved in the test is satisfactorily certified.
4 Check that the safety precautions are in place (warning signs and barriers)
5 Check that the spool piece satisfies the drawing
6 Check the test pressure is correct
7 Check that the media is suitable
8 Check that the test duration is satisfactorily held and charted
9 Check that the test record is complete and accurate
10 Check the proper signatures are applied to the test records

Accepted Completed By : Date:
Rejected Witnessed By : Date:
(Explain below) (Contractor/Sub Representatives)
Deficiency Description: (What’s wrong and why did it happen?)

Contoh Check List:
Company :
Proyek :

Construction Assessment Checklist
Checklist No: Activity : PILE DRIVING
Revision: Discipline: CIVIL
Site/Location : Report No. :
Contractor : Date :
Subcontractor : Component :

Item Action Result
Accepted
Yes No
1 Were satisfactory soils investigations carried out?
2 Was deep foundation study approved, including depth, section, numbers and spacing of piles?
3 Are all requirements for safety of workmen and public satisfied, namely advance warning, protection barriers etc?
4 Were pile cylinders carefully handled and stockpiled in order to avoid any damaged?
5 Was location of piles surveyed?
6 Was pile helmet and packing examined before any piling operation in order to avoid any damage to the pile head?
7 Were pile pitched at specified batter before driving?
8 Were pile heads square to its axis and blows directed axially?
9 Was position and verticality or batter of piles continuously checked during driving and corrected as required?
10 Were piles continuously checked for signs of cracking, bending or buckling and driving stopped as required?

11 Was driving satisfactorily recorded, including blow counts or penetration per blow?
12 Are records available of the height of fall and mass of the hammer, weather free or with trailing rope?
13 Was excavation inside the steel cylinders properly recorded for comparison with anticipated logs?
14 Was the foundation level of piles inspected and approved before placing reinforced concrete?
15 Was water removed from the excavation or concreting under water carried out following specific, appropriate procedures?
16 Are the reinforcement bars type, grade, dimensions, fastenings, etc. in conformity to the drawing and specification?
17 Are all records for material traceability of reinforcement bar available for review?
18 Is the reinforcement correctly assembled conforming to specification?
19 Is concrete mix design approved?
20 Are the vibration tools adequate for the job?
21 Are all preparations made prior to commencing concrete, including adequate weather protection?
22 Are concrete pouring operations, inspection and tests where required completed and recorded?
23 Are all inspections and test carried out, recorded and released, including the lab results?
24 Were any pile extensions requirements approved and satisfactorily carried out?

Accepted Completed By : Date:
Rejected Witnessed By : Date:
(Explain below) (Contractor/Sub Representatives)
Deficiency Description: (What’s wrong and why did it happen?)

Contoh Check List:
Company :
Proyek :

Construction Assessment Checklist
Checklist No: Activity: SURFACE PREPAPARATION/COATING
APPLICATION FOR CONCRETE
Revision: Discipline: Painting
Site/Location : Report No. :
Contractor : Date :
Subcontractor : Component :

Item Action Result
Accepted
Yes No
1 Verify concrete element(s) are fully cured
2 Verify item is clean of oil, grease and dirt.
3 Check paint system to be applied & verify against specification (including color)
4 Check masking of areas not required to be coated (nameplates, machined surfaces etc)
5 Check surface irregularities like bug holes, honeycomb etc. has been patched
6 Identify stage of application (Primer, Tie-Coat etc) and WFT record.
7 Check & record time since last coat application
8 Verify adequate protection to surrounding areas
9 Check weather conditions, dew point, surface temperature and relative humidity
10 Verify adequate mixing of coatings
11 Check access for restrictions to coating

Accepted Completed By : Date:
Rejected Witnessed By : Date:
(Explain below) (Contractor/Sub Representatives)
Deficiency Description: (What’s wrong and why did it happen?)

30
Jun
09

PEKERJAAN FIREPROOFING (TAHAN API) DI KILANG HIDROKARBON ONSHORE

Pekerjaaan Fireproofing (Tahan Api) dikilang hidrokarbon ini merupakan salah satu pekerjaan turunan/derivatif yang dilakukan oleh disiplin teknik sipil. Sedikit banyak berkaitan erat dengan pekerjaan konstruksi struktur baja dan dari derivatif disiplin mekanikal yaitu pekerjaan Static Equipment.

Dalam artikel kali ini, saya ingin membagi pengalaman dalam menangani pekerjaan ini termasuk sedikit tinjauan teknis tentang apa dan bagaimana Fireproofing tersebut.

Lanjutkan membaca ‘PEKERJAAN FIREPROOFING (TAHAN API) DI KILANG HIDROKARBON ONSHORE’

10
Jun
09

PERBAIKAN RETAK STRUKTUR DI SLAB BETON

Pada konstruksi slab beton yang memiliki luasan cukup besar, sering dijumpai kasus retaknya permukaan. Jenis retak juga bermacam-macam tergantung penyebab awalnya. Jika area terekspose oleh panas matahari setelah dicor dan ditambah kurang baiknya curing, retakan dipermukaan karena susut yang cepat (rapid shrinkage) kemungkinan besar bisa terjadi. Dan untuk perbaikan retak permukaan karena susut ini, relatif lebih mudah dan cepat.
Retakan yang terjadi akibat kontraksi beban awal yang diluar perkiraan bisa dikonotasikan sebagai retakan struktur. Seberapa besar tingkat kebahayaannya dan metodologi penanganannya, tergantung dari investigasi awal tentang dimensi retak tersebut. Baik menyangkut kedalaman, lebar, lokasi retakan dan perkiraan sebaran retakan didalam badan slab tersebut.
Lanjutkan membaca ‘PERBAIKAN RETAK STRUKTUR DI SLAB BETON’

08
Jun
09

STRUKTUR PRE CAST UNTUK PIPE RACK DI OIL/GAS PLANT

Slide19Tujuan utama dari pemakaian struktur pre-cast untuk Pipe Rack pada saat konstruksi di proyek-proyek Oil/Gas Plant adalah memangkas waktu pelaksanaan, pengendalian mutu konstruksi beton terkait, dan berujung pada penghematan biaya konstruksi.

Ada bermacam-macam teknik pembuatan pre cast beton pipe rack ini, tergantung dari tingkat pengalaman dan pemahaman kontraktor. Dari beberapa proyek-proyek Oil/Gas dan Petrokimia/Refinery yang saya ikuti, kontraktor Technip France mempunyai kepiawaian lebih dari pada yang lainnya.

Perbandingan atas kemampuan kontraktor ini saya ambil dari proyek-proyek yang saya pernah terlibat langsung didalamnya seperti Qatar Gas 2 (Train 4 dan 5) dengan kontraktor utamanya adalah Chiyoda Japan dan Technip France, Qatar Gas 3 dan 4 (Train 6 dan 7), Yemen LNG kontraktor utamanya adalah KBR USA, Technip France, JGC Japan, Tangguh LNG dengan kontraktor utamanya JGC Japan dan KBR USA, Arun NGL dengan Chiyoda dan Ferrostahl Germany, Borouge 2 Polymer dengan kontraktor utamanya Tecnicas Reunidas Spain, Samsung Engineering Korea, Technimont Italy, Linde Germany.
Lanjutkan membaca ‘STRUKTUR PRE CAST UNTUK PIPE RACK DI OIL/GAS PLANT’

19
Mei
09

Beton Anti Retak

Test…

artikel diambil dari Kompas.com, hari Rabu 6 May 2009

beton anti retak

Masalah keretakan pada jalan atau jembatan beton yang sering terjadi jika ada gempa bumi mungkin teratasi dengan material baru yang dikembangkan para peneliti di Universitas Michigan, AS. Material tersebut tidak hanya membuat jalan beton lebih tahan tekanan namun juga anti-retak.

Bahan beton yang dicampur komposit itu menjadi lebih fleksibel. Saat mendapat tekanan yang tinggi, ia mampu melengkung tanpa mengalami keretakan. Kalaupun tejadi, retakannya akan berbentuk garis dan akan pulih dalam waktu singkat hanya dengan doguyur air, termasuk hujan misalnya.
Lanjutkan membaca ‘Beton Anti Retak’

19
Mei
09

Heavy Lifting Vessel 24-C0201, QG2 TR-4 Process Area

C201Departemen Heavy Lifting & Rigging memegang peranan penting dalam meletakkan dan memposisikan peralatan (Equipment) dalam membangun Plant baik itu Onshore maupun Offshore. Berikut ditampilkan salah satu serial peletakan Tower Vessel 24 C0201 di Qatar Gas 2 Project, persisnya di Train 4 Process Area. Tower terberat ini mempunyai bobot 1450 ton dan di berdirikan (erected) dengan 1 Stationed Heavy Crane kapasitas 3000 ton sebagai Crane pengangkat utama dan 1 Crawler Crane kapasitas 1600 ton sebagai pendukung.
Lanjutkan membaca ‘Heavy Lifting Vessel 24-C0201, QG2 TR-4 Process Area’




Thomas Yanuar

foto papa1 Penulis saat ini bekerja di Borouge 2-Olefins Conversion Unit di Ruwais, sekitar 250 km dari Abu Dhabi - UAE menuju perbatasan Arab Saudi dan Qatar. Dari lebih 18 tahun pengalaman bekerja dalam bidang keahlian dasar Sipil dan Struktur, meskipun pada awal karir berkarya di kontraktor dan konsultan enjiniring untuk Highrise Building dan Infrastruktur. Namun selanjutnya hingga saat sebagian besar berada diranah multi disiplin proyek pada sektor Oil/Gas, Petrokimia/Refinery, Pembangkit (Power Plant), dan Yard Fabricator. Sempat bergabung di salah satu produsen semen terbesar diIndonesia sebagai CB Plant Manager. Beberapa proyek multi disiplin besar dan prestisius yang pernah terlibat adalah Qatar Gas 2 LNG, Yemen LNG, Arun NGL, Tangguh LNG, Balongan Blue Sky Refinery, Cilegon Combined Cycle Power Plant, dan Arjuna Rigs Platform. Email: thomas.x.yanuar@gmail.com

Tanggal hari ini

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Kategori Cerita

Kumpulan Cerita

Komentar Terakhir

Thomas Yanuar di Beton Anti Retak
Thomas Yanuar di STRUKTUR PRE CAST UNTUK PIPE R…
Thomas Yanuar di PERBAIKAN RETAK STRUKTUR DI SL…
Thomas Yanuar di PERBAIKAN RETAK STRUKTUR DI SL…
Thomas Yanuar di PEKERJAAN FIREPROOFING (TAHAN …